Saturday, November 30, 2013

PICAK!

Anak kecil itu, ia masih kecil. Namun hatinya sudah bisa meronta ketika melihat kenyataan yang dianggapnya tak sesuai dengan kodrat yang lazim.

Pagi itu, ia diantar ibunya pergi ke sekolah. Seperti halnya ibu manapun yang menyayangi anaknya, adalah wajar terdapat perasaan tak tega membiarkan anaknya yang masih seusia SD, menapaki jalan setapak menuju sekolah tua di seberang desa.

“Ibu, nanti diantarnya sampai di depan gerbang saja,” pinta anak kecil itu.

Ia memang tidak menampakkan gelagat apapun ketika mengucapkan kata-kata itu, karena ekspresi datar tersebut tak ubahnya seperti yang biasa-biasanya. Tapi siapa sangka, ia telah menyembunyikan sesuatu.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Sang Ibu itu, wanita tua yang ringkih itu, menatap wajah anaknya dan tersenyum teduh, “Nak, SPP belum dibayar dua bulan. Bulan ini juga belum ada uang untuk membayar. Aku mau menemui kepala sekolah untuk meminta keringanan.”

“Tidak usah repot-repot, Bu. Biar aku saja yang menyampaikan ke Pak Kepala sekolah.”

“Nak, lebih sopan kalau orang tua yang menyampaikan.”

Seketika anak kecil itu dipanggil teman-temannnya. Dan dengan segera anak itu menegaskan kata-katanya, “Ibu.. Ibu pulang saja, nanti saya akan menemui Kepala sekolah sendiri. Tidak apa-apa Bu.”

“Kurang sopan Nak. Tidak sesuai adat,” Sang Ibu ramah.

“Ibu!” Suara anak itu tiba-tiba membentak, “kau jangan mempermalukan aku di depan teman-temanku!”

Sang ibu terbelalak, ia terperangah. Tenggorokannya tercekat tak mampu keluarkan kata-kata. Sang anak masih melanjutkan, “Lihatlah dirimu! Perempuan bermata satu!”
“Nak!!” ibu membentak, namun masih tercekat.

“Apa? Ibu masih belum sadar kalau tidak normal? Dasar perempuan picak!”

Kata itu, yang tersebut di akhir itu, seketika merobohkan sendi-sendi kaki sang Ibu. Tubuh kurusnya melorot menyentuh tanah jika tak tertahan oleh kedua lututnya. Wajahnya tertelungkup, tertutup oleh kedua tangan, namun air masih merembes keluar tak tertahan.

***

Kini anak itu sudah dewasa setelah 30 tahun minggat dari rumanya. Berumah megah, bermobil mewah. Cukup istimewa melihat kehidupannya.

Ia sebenarnya tidak melupakan Ibunya. Buktinya, ketika kini ia mau menikah, ia tetap memberi tahu kepada Ibunya. Dan ketika pesta pernikahan itu digelar, sang Ibu dengan baju kumuhnya datang dengan seuntai senyuman.

“Ibu,” kata anak itu, “aku sudah dewasa.”

“Syukurlah anakku kau baik-baik saja, bahkan sekarang hidupmu lebih dari ukuran istimewa.” Sang Ibu masih tetap dengan ramahnya.

Tiba-tiba wanita cantik di samping sang anak itu bertanya, “Maaf, ibu... ibunya Mas Farhan?”

Dan seketika ketika sang Ibu hendak menjawab, sang anak buru-buru menjawab, “Ooh, ibu ini yang merawatku waktu kecil. Dia masih ada hubungan keluarga denganku.”
Wanita cantik itu mengangguk pelan.

***

Bagaimanapun sang anak itu tidak pernah melupakan sang ibu. Maka beberapa bulan setelah pernikahannya, ia berniat berkunjung ke rumah Ibunya di pelosok desa. Ia mungkin merasa berhutang budi, oleh karenanya ia berniat memberikan sumbangan, sebagai imbalan atas jasanya merawat dirinya waktu kecil.

Mungkin sekoper uang ini cukup untuk sisa hidupnya, katanya dalam hati. Dan ketika ia sampai di depan pintu rumahnya, maaf, rumah ibunya, ia tak mendengar suara apapun dari dalam. Ketika ia mengucap salam, malah terdengar jawaban berupa rengekan suara engsel pintu tua yang tertiup angin. Senyap, rumah tua itu kedap suara, seperti tak bernyawa.

Ia menanyakan kepada kakek tua yang buru-buru berangkat pergi ke sawah. Ia bertanya, pindah kemana orang yang punya rumah itu. Dan dijawabnya, “Nak, dia sudah meninggal dua minggu yang lalu.”

Sang Anak tersengat dengan jawaban itu. Lalu ia masuk ke dalam rumah, melihat-lihat sekeliling yang penuh sawang, dan kemudian ia menemukan secarik kertas tergeletak di atas tikar ibunya. Ia membuka kertas itu, dan membaca tulisannya,

Anakku, Farhan.
Assalamu’alaykum wr.wb.

Anakku, aku turut bahagia melihat dirimu juga bahagia. Maafkan ibumu jika dirimu merasa malu atas kekuranganku. Aku bersyukur kepada Allah, karena mampu membuatmu bahagia setelah sedikit pengorbananku menutupi kekuranganmu. Karena pada masa lalu, engkau terlahir dengan bermata satu. Aku tak tega jika membiarkan dirimu tumbuh dengan keadaan seperti itu, maka akhirnya aku putuskan untuk mendonorkan satu mataku, untuk kuberikan kepadamu.

Maafkan aku, anakku. Bahagialah dirimu bersama istrimu.
Wassalamu’alaykum wr.wb.

Sang anak mengatupkan surat singkat itu. Dan tenggorokannya terasa dibelesakkan besi linggis hingga tertembus mengaduk-aduk usus. Ia baru merasa bahwa dirinya durhaka. Dia… ucap hatinya… lebih dari sekedar pengkhianat. []

0 komentar:

Post a Comment

- Terimakasih telah berkunjung di blog ini
- Silahkan berkomentar yang baik dan relevan dengan isi artikel
- Dimohon tidak menyertakan link aktif
- Terima kasih pengertiannya