
Sungguh, kita hadir dan hidup di dunia ini bukan karena kehendak kita sendiri. Kita hadir dan hidup di dunia ini karena kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, bisa saja kita hadir di dunia ini menjadi sebutir batu jalanan, sehelai rumput di hutan, atau seekor burung di atas dahan. Maka betapa hampa makna kehidupan ini jika Allah takdirkan kita manjadi benda-benda tersebut. Sebab sebutir batu di jalanan menderita sepanjang hari disepak-sepak orang yang lalu lalang. Sehelai rumput di hutan hanya menunggu dirinya dimamah binatang. Manakala seekor burung di dahan mautnya di ujung bidikan senapan.
Tapi jika Allah mantaktdirkan sebutir batu, sehelai rumput, dan seekor burung bisa menjadi sangat mulia dan bernilai. Bukankah batu di lantai mihrab masjid tempat Imam bersujud dan menangis sumbernya sama dengan batu di jalanan, dari sungai atau dari gunung? Bukankah batu mulia yang menjadi dinding banguanan Ka’bah, kiblat manusia sejagad, adalah batu gunung biasa yang sama dengan batu manapun di dunia?
Lihatlah sehelai rumput yang dimakan oleh kuda-kuda para pejuang Islam. Alangkah mulianya rumput itu. Sebab dengannya kuda-kuda tersebut menjadi kuat untuk mengantarkan para pejuang berdakwah dan berjihad ke negeri-negeri yang jauh. Padahal rumput yang di makan kuda-kuda pejuang itu sama dengan rumput manapun di dunia.
Lihat pula burung Hud-Hud yang terbang ribuan kilo meter untuk meneliti kehidupan ratu Balqis dan melaporkannya kepada Nabi Sulaiman a.s. Bukankah tadinya ia hanya seekor burung biasa yang bersarang di atas dahan? Namun setelah ia bergerak dan berjuang, ratu Balqis serta seluruh rakyatnya meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah SWT. Allah memuliakan Hud-Hud dengan mencantumkan namanya dalam al-Quran dan dibaca oleh umat Islam hingga akhir zaman.
Baik batu, rumput, atau burung, semuanya tidak punya hak pilih dalam menjalani kehidupana di dunia. Jika takdir Allah menetapkan sebutir batu menjadi batu jalanan, maka begitulah selama-lamanya. Batu itu tidak akan bisa berusaha meningkatkan kualitas diri agar kelak menjadi Hajar Aswad. Sebaliknya Hajar Aswad juga tidak mungkin melakukan keburukan sehingga jatuh derajatnya menjadi batu jalanan.
Meskipun masih berada dalam koridor Qadha’ dan Qadar Allah, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas. Gerak dan kreativitas manusia itulah yang disebut dengan amal atau usaha. Jika baik amalnya, manusia berkesempatan untuk sampai kepada derajat yang mulia, meski tadinya durjana. Sebaliknya jika buruk amalnya, maka manusia yang paling mulia pun akan jatuh derajatnya kepada kehinaan dan kedurjanaan. Inilah perbedaan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain.
Batu, rumput, dan burung bukanlah makhluk yang dinyatakan Allah sebagai mulia. Justru makhluk yang disahkan Allah memiliki kemuliaan adalah kita, manusia. Firmannya:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ : 70)
Sayangnya lagi dan lagi, kita tidak mau menginsafi bahwa kemuliaan manusia itu sangat tergantung kepada sejauh mana ia menjalankan kehendak dan perintah Allah SWT. Manusia bukan batu, bukan rumput, dan bukan burung yang hidupnya statis. Manusia adalah makhluk yang Allah berikan kesempatan untuk berbuat dan memilih.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin : 4-5)
Tanpa mematuhi perintah dan kehendak Allah, manusia bisa lebih hina dari batu, rumput, dan burung. Bahkan manusia yang durjana sebaiknya memilih mati sebagai sebutir batu, sehelai rumput, atau seekor burung. Sebab mati sebagai manusia, ia harus mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya dalam hari perhitungan yang akan menyeretnya kemudian ke dalam neraka. Sementara batu, rumput dan burung terbebas dari itu semua.
Jika manusia benar-benar mematuhi kodrat penciptaan dirinya untuk menyembah Allah dan memenuhi kehendak-Nya selama berada di dunia, jika manusia benar-benar memegang teguh nilai keimanan dan menjaga hati nuraninya dari dosa dan kemaksiatan, maka ia akan berbahagia dalam keridhoan Allah dan bersenang-senang dalam syurga-Nya. Namun jika ia memilih untuk mengabaikan hakikat penciptaannya sebagai manusia, mengingkari kehendak Allah dan menuruti hawa nafsunya, maka ia akan dibakar api neraka selama-lamanya. Selama-lamanya. [Dikutip dan disadur dari Buku “My Dad My Pious Dad”]
Saturday, November 30, 2013
Bukan Makhluk Statis
8:12 PM
No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 komentar:
Post a Comment
- Terimakasih telah berkunjung di blog ini
- Silahkan berkomentar yang baik dan relevan dengan isi artikel
- Dimohon tidak menyertakan link aktif
- Terima kasih pengertiannya