Buka mata lebar-lebar! Dan terbelalak tontonan-tontonan ”sahwat” yang berserakan. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dengan sangat mudah kita bisa mendapatkan tayangan-tayangan tak senonoh itu. Malah salah seorang teman saya berseloroh, ”Dimana kalian berpijak, di sana ada sahwat”. Hahaha!
Inilah dunia. Internet kurang sedap tanpa desktop Gairah cinta. Acara televisi juga kurang sreg tanpa Film gelora asmara. Majalah-koran tak segan menampilkan gambar kambing terbuka. Namun janganlah ditanya, karena ini memang 'surga dunia'. Atas nama seni rupa, kebebasan dan hak asasi manusia ini lantas dilindungi oleh Negara. Anda tahu kenapa? Jawabannya, karena kehidupan telah dipisahkan dari aturan Agama. Sekularisme!
Tak dapat kita pungkiri, ”perusakan moral” itu banyak kita dapati pada gambar-gambar iklan, di internet, VCD, dan tentu tidak ketinggalan pula televisi. Cukup itu? Oh, tentu tidak. Bahkan, di kehidupan nyata pun tidak mau kalah. Ah, tidaklah perlu saya beri contoh, Anda tentu sudah paham maksud saya.
Saya, adalah dilahirkan di pelosok desa. Yang dalam hal berpakaian, lebih khusus bagi perawan desanya, kebanyakan masih memakai pakaian yang terkesan sopan. Mereka sepertinya masih malu-malu untuk memamerkan properti “aurat” pribadinya. Tapi itu dulu, waktu saya masih ingusan. Sekarang, jelaslah berbeda. Paling tidak, 80% sudah berubah memakai pakaian “modern”.
Kini saya sudah dewasa, sudah kuliah, di kota besar pula, tepatnya di Surabaya. Nah, bukan Surabaya namanya kalau perempuan-perempuan mudanya tidak berani berpakaian ala sundel bolong. Diakui atau tidak, memang saban hari itulah pemandangan yang ada. Hampir di segala tempat: di kampus, di pusat perbelanjaan, di pasar rakyat, di angkot, di terminal, di tempat-tempat hiburan, bahkan di jalan depan kontrakan saya, sangat mudah dijumpai aura-aura berbau sahwat. Seakan kita ini dipaksa untuk maksiat.
Seorang yang merasa tertuduh barangkali akan berkata, ”Lho, itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres!”
Wahai kawanku...
Apa yang engkau katakan itu memang benar. Benar adanya namun tidak kah engkau sadar, bahwa otak ngeres itu setidaknya dipicu oleh adanya medium dan stimulus, yang ngeres pula? Tidak kah engkau juga tahu, hampir seluruh introgasi polisi yang menanyakan remaja belasan tahun kenapa mereka berbuat cabul, maka serta merta mereka mengaku disebabkan sering melihat tayangan-tayangan porno. Sekali lagi, tayangan porno, bukan film sinchan!
Oleh karena itu kawanku... pertanyaan saya ini tolong dijawab, salahkah saya jika harus menuduh tukang umbar aurat sebagai satu penyebab kerusakan moral?
Terlepas dari itu semua, sekali lagi inilah realitas. Bahkan saya yakin, di tempat-tempat lain setali tiga uang. Artinya, sama saja. Terlebih di kota-kota besar yang lain. Lha, terus apa urgensinya pembahasan ini bagi kita? Hmm, ini bukan hanya masalah urgensi atau tidak. Karena setidaknya, dengan realitas seperti diatas, kita harusnya paham, bahwa sudah seharusnya kita pasang kuda-kuda. Hayo, jangan ngeres lagi! Maksud saya, kita harus siap siaga, bisa menjaga diri, agar hati kita tidak terkotori oleh tayangan-tayangan yang kurang senonoh itu. Lebih-lebih, jangan sampai kita terjerumus lebih parah karenanya.
Jauh sebelum kita dilahirkan, sekitar 15 Abad silam, Allah SWT sudah wanti-wanti, agar para hambanya selalu menjaga diri dari godaan-godaan sahwat,
“Katakanlah pada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya...” (QS. An-Nur : 30)
Saya kira, ayat ini sudah sangat jelas, yaitu perintah untuk selalu menjaga diri dari fitnah “sahwat” kepada setiap orang yang beriman, yang di KTP-nya tercatat beragama Islam. Tapi masalahnya, seperti yang dikeluhkan oleh teman saya waktu lalu, yaitu di jaman sekarang ini, yang sedang hot-hotnya dibicarakan goyang ngebor ini, bagaimana cara kita untuk menahan/menundukkan pandangan? Sementara di sekeliling kita, hampir di setiap tempat dan waktu, kita harus berhadapan atau bercampur baur dengan hal semacam itu. Maka tak bisa di-elakkan pula teman saya itupun pernah komplain, “Apa saat di angkot, saat mengendarai kendaraan, dan saat belanja di pasar, harus tetap Ghadhul bashar (menundukkan pandangan)? Lha, apa jadinya kalau begitu?” Lantas dia melanjutkan, “Bisa-bisa saat di angkot malah nyasar, saat mengendarai kendaraan motornya nyosor pagar tetangga, saat belanja pakaian di pasar, eh, nyasar di toko bangunan! Lha, kalau begitu, konsep Ghadhul bashar ini bisa berbahaya sekali.” Hahaha, terang saja saya langsung terpingkal-pingkal mendengarnya.
Mungkin tidak hanya teman saya yang berpendapat seperti itu, jangan-jangan Anda pun tak berpendapat berbeda. Mari kita jujur-jujuran saja, saya bertanya kepada Anda, apakah para pengemban dakwah, yang terkenal dengan semangat dakwahnya yang menggerutu, bisa menjamin dirinya akan ”tahan” dengan adanya godaan-godaan yang menggoda iman itu? Jawabannya, tentu bisa. Akan tetapi... yakinlah, tidak sedikit dari mereka yang tergoda. Akhi, Ukhti, saya tidak berbohong, kan?
”Hei saudara penulis, yang biasa matanya keranjingan kan cowok. Jadi jangan disamakan dengan kaum Hawa dong!” Hahaha. Sabar, sabar. Kalau tidak merasa mbok ya nggak usah tersinggung. Tapi terus terang saja, sejauh yang saya ketahui, tidak sedikit juga perempuan yang tak jauh berbeda dengan realitas diatas. Sudah banyak bukti kok. Apa minta dituliskan juga? Ah, kiranya kurang sopan jika banyak saya beberkan disini. Hehehe...
Sudahlah Kawan. Jangan berbelit, jangan berkelit. Ini hanya satu diantara kasus yang ada, yang sekali lagi menuntut kita untuk bisa sadar diri. Sadar, bahwa inilah sebuah realitas yang sengaja menantang perang Iman kita.
Nah, pertanyaannya, sejauh manakah Anda siap perang?
Friday, November 29, 2013
Aura Aurat
4:39 PM
No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 komentar:
Post a Comment
- Terimakasih telah berkunjung di blog ini
- Silahkan berkomentar yang baik dan relevan dengan isi artikel
- Dimohon tidak menyertakan link aktif
- Terima kasih pengertiannya