Sikap Tabayyun Terhadap Informasi

Peringatan dan pesan Allah dalam ayat ini tentu bukan tanpa sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi. Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, December 30, 2013

Dewa Matahari di Perayaan Tahun Baru & Pandangan Islam


Dewa Matahari di Perayaan Tahun Baru & Pandangan IslamSetiap akhir tahun biasanya semua manusia di dunia ini tidak terkecuali kaum Muslim mengalami wabah penyakit yang luar biasa, pengidap penyakit ini biasanya menjadi suka menghamburkan harta untuk berhura-hura, euforia yang berlebihan, pesta pora dengan makanan yang mewah, minum-minum semalam penuh, lalu mendadak ngitung (3.., 2.., 1.. Dar Der Dor!).

Wabah itu bukan flu burung, bukan juga kelaparan, tapi wabah penyakit akhir tahun yang kita biasa sebut dengan tradisi perayaan tahun baruan. Kaum muda pun tak ketinggalan merayakan tradisi ini. Kalo yang udah punya gandengan merayakan dengan jalan-jalan konvoi keliling kota, pesta di restoran, kafe, warung (emang ada ya?)

Kalo yang jomblo yaa.. tiup terompet, baik terompet milik sendiri ataupun minjem (bagi yang nggak punya duit). Kalo yang kismin, ya minimal jalan-jalan naik truk bak sapi lah, sambil teriak-teriak nggak jelas.

Dan bagi kaum adam yang normal menurut pandangan jaman ini, kesemua perayaan itu tidaklah lengkap tanpa kehadiran kaum hawa. Karena seperti kata iklan “nggak ada cewe, nggak rame”

Bahkan di kota-kota besar, tak jarang setelah menunggu semalaman pergantian tahun itu mereka mengakhirinya dengan perbuatan-perbuatan terlarang di hotel atau motel terdekat.

Yah itulah sedikit cuplikan fakta yang sering kita lihat, dengar, dan rasakan menjelang malam-malam pergantian tahun. Ini dialami oleh kaum muslimin, khususnya para anak muda yang memang banyak sekali warna dan gejolaknya. Nah, sebagai pemuda-pemudi muslim yang cerdas, agar kita nggak salah langkah di tahun baruan ini, maka kita harus menyimak gimana seharusnya kita menyikapi momen yang satu ini.

Asal muasal tahun baruan

Awal muasal tahun baru 1 Januari jelas dari praktik penyembahan kepada dewa matahari kaum Romawi. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.

Sebagaimana yang kita ketahui, Romawi yang terletak di bagian bumi sebelah utara mengalami 4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains masa kini yang juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.

Sepanjang bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bahagian selatan khatulistiwa sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik tterjauh matahari adalah pada tanggal 21-22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik kembali ketika tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar-benar terasa sekitar 6  hari kemudian.

Karena itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa Matahari (Sol Invictus) pada tanggal 25 Desember sampai tanggal 1-5  Januari yaitu Perayaan Tahun Baru (Matahari Baru)
seasons

Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu kebinatangan diumbar disana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.
Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.
Bahkan untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus)

Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun Baru

’Ala kulli hal, yang ingin kita sampaikan disini adalah bahwa ’Perayaan Tahun Baru’ dan derivatnya bukanlah berasal dari Islam. Bahkan berasal dari praktek pagan Romawi yang dilanjutkan menjadi perayaan dalam Kristen. Dan mengikuti serta merayakan Tahun baru adalah suatu keharaman di dalam Islam.

Dari segi budaya dan gaya hidup, perayaan tahun baruan pada hakikatnya adalah senjata kaum kafir imperialis dalam menyerang kaum muslim untuk menyebarkan ideologi setan yang senantiasa mereka emban yaitu sekularisme dan pemikiran-pemikiran turunannya seperti pluralisme, hedonisme-permisivisme dan konsumerisme untuk merusak kaum muslim, sekaligus menjadi alat untuk mengeruk keuntungan besar bagi kaum kapitalis.

Serangan-serangan pemikiran yang dilakukan barat ini dimaksudkan sedikitnya pada 3 hal yaitu (1) menjauhkan kaum muslim dari pemikiran, perasaan dan budaya serta gaya hidup yang Islami, (2) mengalihkan perhatian kaum muslim atas penderitaan dan kedzaliman yang terjadi pada diri mereka, dan (3) menjadikan barat sebagai kiblat budaya kaum muslimin khususnya para pemuda.

Ketiga hal tersebut jelas terlihat pada perayaan tahun baru yang dirayakan dan dibuat lebih megah dan lebih besar daripada hari raya kaum muslimin sendiri. Tradisi barat merayakan tahun baru dengan berpesta pora, berhura-hura diimpor dan diikuti oleh restoran, kafe, stasiun televisi dan pemerintah untuk mangajarkan kaum muslimin perilaku hedonisme-permisivisme dan konsumerisme.

Kaum muslim dibuat bersenang-senang agar mereka lupa terhadap penderitaan dan penyiksaan yang terjadi atas saudara-saudara mereka sesama muslim. Dan lewat tahun baruan ini pula disiarkan dan dipropagandakan secara intensif budaya barat yang harus diikuti seperti pesta kembang api, pesta minum minuman keras serta film-film barat bernuansa persuasif di televisi.

Semua hal tersebut dilakukan dengan bungkus yang cantik sehingga kaum muslimin kebanyakan pun tertipu dan tanpa sadar mengikuti budaya barat yang jauh dari ajaran Islam. Anggapan bahwa tahun baru adalah “hari raya baru” milik kaum muslim pun telah wajar dan membebek budaya barat pun dianggap lumrah.

”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim)

Walhasil, kaum secara i’tiqadi dan secara logika seorang muslim tidak layak larut dan sibuk dalam perayaan haram tahun baruan yang menjadi sarana mengarahkan budaya kaum muslim untuk mengekor kepada barat dan juga membuat kaum muslimin melupakan masalah-masalah yang terjadi pada mereka.

Dan hal ini juga termasuk mengucapkan selamat Tahun Baru, menyibukkan diri dalam perayaan tahun baru, meniup terompet, dan hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan orang-orang kafir.

Wallahua’lam

Sunday, December 1, 2013

CUMA CANTIK, BUAT APA?

Wah, belum apa-apa judulnya sudah menggebrak begini. Bikin suasana mendadak panas nih. Hehehe..

Sobat muda muslim, banyak di antara teman-teman kita yang dikaruniai wajah cantik, lekuk tubuh yang aduhai, kulit seputih salju, bibir merah merekah dan sebagainya, tapi jarang sekali mereka mensyukurinya. Ada sih yang mengaku-ngaku mensyukuri karunia itu, tapi dengan cara memamerkan privasinya di tempat-tempat umum. Di sisi lain, tidak sedikit dari kaum Adam yang menikmati ‘pemandangan’ itu lalu dengan serta merta membuat klaim bahwa perbuatannya itu dalam rangka mengagumi dan menghayati ciptaan Allah SWT yang bahenol dan indehoy. Waduh!

By the way, sebelumnya mohon maaf, karena saya dalam kondisi nggak stabil ini nulisnya, alias sambil marah-marah! Hm, gimana nggak marah coba, karunia Allah –berupa kecantikan- yang telah diberikan ternyata banyak yang disalah-gunakan. Aturan Allah yang diberikan kepada kita malah disepelekan. Bukannya taat malah bikin pelanggaran! Bukankah ini namanya penghinaan? Bukankah ini akan dapat merusak citra Islam?? Bukankah ini akan merugikan saudaranya yang seiman?? Hayo, jawab!!

Pembaca yang budiman, sebenarnya saya menulis judul ini bukan berarti saya nanti tidak menginginkan istri cantik dan malah mencari istri yang berwajah robot, bukan! Hanya saja kalau kecantikan seseorang itu justru akan mengantarkannya ke Neraka, buat apa? Apa untungnya? Rugi dong kalau kecantikan yang mereka punya hanya untuk modal berbuat dosa. Kan nggak lucu wajah cantik yang semestinya bernilai ibadah [dengan cara mensyukuri, menjaga, dan diperuntukkan bagi orang yang halal –suami-], malah menjadi “tiket” untuk masuk neraka. Itulah makanya, gara-gara banyak orang cantik di dunia ini yang besar kemungkinan masuk neraka, teman ngerumpi saya pernah nyeletuk, “Saya nanti mau masuk neraka aja ahh..” Saya Tanya, kenapa? Dia jawab, “Lha, enak dong nanti di neraka banyak orang cantiknya.” Hahaha, dasar!

Saya sendiri malah beranggapan, cantik itu boleh jadi cobaan. Bisa kamu lihat, berapa banyak wanita di jagad raya ini yang terkena cobaan kecantikan. Agar dibilang cantik, dia riya’. Agar tampak cantik, dia tabarruj. Makanya sekarang banyak cewek yang kalo pergi jjs pasti bawa tas kan? Coba tebak isinya apaan? Tidak salah lagi, peralatan perang! (Wuih, serem bener?). Iya, biar rambut selalu rapi, selalu sedia sisir (ini karena tidak berkerudung toh?). Biar wajah nggak kelihatan kucel en kumel plus mengkilap, tenang aja, udah ada kertas minyak en sabun wangi plus oil control moisturizernya. Bedak super mahal tak tanggung-tanggung siap menjadi dempul. Biar kelihatan manis dan lucu sedia juga pemerah. Pewarna alis, karena alis yang asli sudah dikerok abis. Bibir juga nggak boleh kelihatan kering, so lipgloss pun jadi super penting.

Tak ketinggalan soal kulit. Ini jelas menjadi tuntutan berat bagi para wanita. Karena kulit wanita diidentikkan dengan kulit halus, lembut dan putih. Yang namanya kulit bersisik, kasar, kering, item, masyaAllah amit-amit! Makanya banyak wanita yang menggelontorkan duit untuk beli soklin pemutih, eh, sabun pemutih. Semuanya harus nampak putih: wajah ingin putih, kulit juga putih, gigi putih, rambut juga putih. Pokoknya semua produk kosmetik yang iklannya ba-bi-bu bisa memutihkan kulit, segera dikoleksi. Padahal, mestinya sebelum membeli kosmetik pemutih, jangan hanya karena tertarik model iklan yang memang dari sononya sudah putih dan cantik itu. Kita harus kritis dong! Apakah pemutih itu sudah lulus uji coba program pemutihan kulit warga Afrika? Kalo tidak putih lantas apa jaminannya? Nah, kalo perlu kamu juga kudu tanya, apakah selesai memakai produk kosmetik itu lalu cowok-cowok dijamin bakal jatuh cinta? Walah! Hh, padahal kalo dipikir-pikir, buat apa juga assesories segitu banyak dan mahalnya kalo hanya untuk keperluan pamer kecantikan? Lebih dari itu, untuk menebarkan dosa dengan mengumbar aurat sebagai “barang jajanan”! Astaghfirullah, astaghfirullah..

Gilanya lagi, terkadang ada wanita yang dalam aksi-aksinya Cuma modal tampang doang! Sibuk permak tampilan, sementara otak melorot ke dengkul malah kurang diperhatikan. Hm, harap jangan salah faham, ini bukan bermaksud penghinaan, tapi sebuah kejujuran yang ditulis dari beberapa fakta di lapangan (Watauw! Yang kesindir harap tahan air mata ya? Hehehe). Makanya bagi yang laki-laki jangan Cuma terpesona dengan “casing luar” alias tampang belaka. Ingat pesan engkong kita: Lihat Bibit, Bebet, dan Bobotnya. Lebih jelas lagi Rasulullah SAW memberikan kriteria,

“Wanita dinikahi karena empat perkara: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena Agamanya. Maka nikahilah yang memiliki Agama, niscaya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari)

Yup, karena Agama. Nah, sekarang kalau ada yang bertanya, saya sendiri pilih kriteria yang mana? Maka saya jawab: Empat-empatnya! Hahaha, dilarang protes!

Perhiasan terindah
Saudara penulis, ini yang dibahas kok cuma yang cantik aja, kapan giliran yang jelek? Hahaha, sabar, sabar. Setidaknya saya punya tiga alasan kenapa saya hanya membahas yang cantik. Pertama, karena saya laki-laki. Kedua, berhubung artikel ini saya yang nulis, ya suka-suka saya. Ketiga, saya berpendapat bahwa semua wanita adalah cantik. Yah, ini karena tidak mungkin ada wanita yang ganteng kan? Ah, yang benar saja!

Kalau kamu ingat satu judul lagunya Mulan Jameela; “Makhluk Tuhan paling seksi”, yang kemudian ditafsirkan oleh Ahmad Dhani bahwa kata “seksi” yang dimaksud adalah sesuatu yang mempunyai nilai daya tarik, maka sebetulnya perempuan dalam pandangan Islam lebih dari sekedar definisi itu. Menurut rekomendasi Al-Quran, perempuan menduduki peringkat tertinggi keindahan-keindahan yang diinginkan manusia. Allah SWT berfirman,

“Dijadikan indah (pandangan) manusia apa-apa yang diingini yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading” (QS. Ali-Imran:4).

Rasulullah SAW, ketika bicara soal perempuan, maka yang Beliau katakan adalah,
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (HR. Muslim)

Maka tak pelak lagi, perempuan adalah perhiasan dunia. Tak tanggung-tanggung, yang terindah! Kita sepakat itu. Cuma, kalo sudah mendapat label semacam itu lalu mau diapain? Diumbar? Gratis? Cuci gudang? Beli satu dapat dua? Bagi lelaki keong racun mungkin disambutnya sebagai anugrah, namun bagi kita-kita yang sudah ngaji, serasa ketiban musibah! Iya dong, gimana nggak dianggap musibah, lha iman kita yang jadi taruhannya! Siapa yang bertanggung jawab kalo raport keimanan kita merosot bin melorot? Okelah mereka boleh menyalahkan kitanya yang suka jelalatan (ini bagi yang jelalatan), tapi hati-hati cing!, orang yang suka mancing-mancing berbuat dosa itu termasuk absensi pertama masuk neraka! Sekali lagi, neraka! Catat itu!

Makanya, biar aja deh banyak orang cantik yang terkena budaya barat. Emang begitu kok, agaknya akan banyak wanita cantik yang bakalan terkena adzab Ilahi. Hiii, na’udzubillah min dzalik, ya?

Hakikat cantik yang sesungguhnya
Lengkap dengan software keindahannya. Namun terkadang, banyak wanita yang tidak memahami bagaimana memelihara kecantikan yang telah dikaruniakan, sehingga tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang terjurumus karena kecantikan.

Setiap wanita terlahir dengan segenap potensi keindahan yang melekat pada dirinya, tentu dengan kadar yang berbeda-beda. Setiap kadar potensi tersebut adalah amanah yang harus dijaga. Dan yang terpenting, bagaimana memaknai dan mengelola potensi yang ada.

Kecantikan, bukanlah semata tubuh dan wajah. Ada sebentuk kecantikan yang wajib dimilki wanita. Kecantikan yang pasti bisa diraih oleh semua wanita, jika ia ikhlas berusaha. Itulah kecantikan sejati yang merupakan kecantikan sesungguhnya. Apalah artinya keindahan rupa dan raga tanpa disertai kecantikan pekerti dan jiwa. Cantik jiwa dan raga, adalah kecantikan seutuhnya.

Kecantikan secara fisik seringkali menjadi standar penilaian seseorang. Padahal, hati dan amallah yang menjadi ukuran. Bentuk fisik seseorang tidak akan mempengaruhi nilai seseorang di sisi Allah. Maha suci Allah, yang tidak membeda-bedakan wujud ciptaan-Nya. Raga seseorang hanyalah media, yang hendaknya digunakan untuk melakukan ketaatan, dengan meluruskan hati dan jiwa, serta melaksanakan amal ibadah.

Saturday, November 30, 2013

AURAT

Aurat, Mana tahan?


Coba tebak 4 kriteria berikut:
Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu?

Hayoo…jangan ngeres!
Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.


Sobat muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).

Inilah faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini.

Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall.
Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat!
Hampir keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari (lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!).
Pikir-pikir, mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut, itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan penuh kutil. Walah!


Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding?

Kalo laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”?
Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!)
Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).


Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku.
Doi pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi jadi tukang jaga kebun.
Wakaka, sory yeiy! Gubrakkkksss !!!!
Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula.
Hahaha!


Maka bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang sahwat?
Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan?
Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba?
Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.


Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing?
Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres?

Ya iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya, berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu timbulnya sahwat.

Nah, gimana kalo sudah begini?
Makanya dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe).

Nah tuh, bener kan?
Jadi, ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk “berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias “ekspresi”.
Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The real terrorist
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris!
Kalo teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom, maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!


Ini penting.
Kamu saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya.

Baiklah, catat baik-baik.
Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!!
Seru banget, eh, parah banget kan?


Sobat muda muslim,........
sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum.
Intinya usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam. Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror.
Ketika kamu SMS lawan jenis kamu,
“Dalam waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya.

Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang,
“Lo gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar teroris itu.

Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris!
Jadi bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya- yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslim.
Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals,
“…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”.
Sorak-sorak: Huuu!!


Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris?
Uhuk, uhuk!..... Sory batuk.
Begini, coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini, bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx” (Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!).

Gaswat banget kan?

Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak.
Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?).
Jangankan mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar aurat.
Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat!
Astaghfirullah…


Sobat muslim,....
sebenarnya tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana, kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong.

Maksudnya begini sayang,....
kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa.
Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani.
Lha, kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang berbau sahwat.

Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar! Beuuuuuuuuii Plakss!! Pyuurrr!!!


Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu?
Apa kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak adil alias njomplang, brur!
Ibarat kita kalo rumahnya dimaling, kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Waduh ! Sreeeeeettss GUBRAKKSSSss!!!


Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul.
Negara wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya.
Jaim (jaga imej) dong!
Emangnya barang apaan, diobral-obral? Wedeziiggttsss!!!


Nah sobat muslim,.......
jadi jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan” iman.

Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam sembari teriak sekeras-kerasnya,

“Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak?

Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.

Dunia Ini Permainan Belaka


Allah Swt berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnyanakhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.” (QS. Al Ankabut 64)

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad 36)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

‘Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al Hadid 20)

Keempat ayat di atas meskipun secara redaksional berbeda-beda, namun mengandung pesan yang sama, yakni penegasan sekaligus peringatan Allah Swt kepada para hambanya tentang hakikat kehidupan dunia agar manusia bisa memiliki pandangan yang jernih dan tepat tentang kehidupan dunia sehingga dapat mengambil sikap yang tepat dalam kehidupan dunia yang cuma sekali ini.

Pada ayat pertama, Allah Swt menggunakan lafazh “ma”..”illa”, yang merupakan alat pembatas (adlatul hasr) untuk membatasi hakikat kehidupan ini. Dalam tafsir Jalalain, kehidupan dunia dalam ayat itu maksudnya adalah “kesibukan dunia”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan “umumnya atau kebanyakannya” kehidupan manusia di dunia itu tidak lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Sedangkan “daarul akhirat” menurut Imam Jalalain adalah surga yang tentunya lebih baik dari pada kesenangan kehidupan dunia bagi orang-orang yang bertakwa (yattaquun). Imam Jalalain mengatakan penggunaan huruf “ta” dalam lafazh “ta’qiluun” setelah huruf “ya” pada lafazh yataquun memiliki pengertian dorongan agar beriman adanya kehidupan akhirat yang hakikatnya lebih baik itu.kepada Allah adalah surga yang tentunya lebih baik.

Pada ayat kedua Allah membatasi hakikat kehidupan dunia dengan lafazh yang sama dengan “maa” ….”illa”,  hanya ada tambahan lafazh Hadzihi. Kehidupan dunia ini tidak lain merupakan senda gurau dan main-main belaka. Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah Swt mengabarkan kepada kita tentang rendah dan hinanya kehidupan dunia serta tujuan-tujuan yang ada dalam aktivitas kehidupan itu hanyalah sekedar aktivitas senda gurau dan permainan belaka. Kehidupan dunia itu sementara dan ada akhirnya. Sekaligus Allah Swt menegaskan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sejati dan abadi. Ayat itu ditutup dengan kalimat “lau kaanuu ya’lamuun”, kalau mereka mengetahuinya. Menurut Ibnu Katsir, sekiranya mereka mengetahuinya tentulah mereka lebih mengutamakan yang kekal dari pada yang sementara ini. Kata Imam Jalalain, kalau mereka tahu, tentunya mereka tidak akan memiliki dunia dan meninggalkan aktivitas dunia seperti itu.

Pada ayat ketiga Allah Swt menggunakan pembatan “innama” (hanyalah) untuk merendahkan urusan-urasan dunia dengan mengatakan bahwa hasil atau kesimpulan sema aktivitas dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka. Imam Ibnu Katsir mengatakan hal itu berlaku bagi semua kegiatan manusia di dunia dengan kekecualian, yakni kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencari keridloaan Allah Swt. Kekecualian ini nampak dalam lanjutan ayat tersebut : “Jika kalian beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepada kalian.” Artinya, segala aktivitas yang dibangun atas daasar keimanan –termasuk iman kepada akhirat--, dan ketakwaan –sesuai dengan syari’at Allah--, dan dalam rangka mencari keridloan Allah itu tidak termasuk dalam kehidupan hina. Allah menegaskan bahwa diri-Nya Maha Kaya, yakni tidak meminta harta manusia sedikitpun. Dia hanya mewajibkan zakat dan menganjurkan shadakoh agar diberikan kepada saudara mereka yang faqir – miskin yang ini manfaatnya pun akan kembali kepada pemberi harta itu.

Sedangkan pada ayat keempat Allah Swt menggunakan pembatas “annamaa” (hanyalah) utnuk menyatakan kerendahan dan kehinaan dunia. Kehidupan yang hanya dipenuhi dengan permainan dan senda gurau yang melalaikan belaka. Lebih jelas lagi Allah Swt menambahkan bahwa dalam kehidupan seperti itu biasanya dipenuhi dengan perhiasan, bermegah-megah, dan berbangga-banggaan harta dan anak belaka. Kesibukan manusia hanya diseputar aktivitas untuk memenuhi tujuan-tujuan itu. Mereka pun lalai bahwa tujuan diciptakan manusia dan jin di dunia ini hanyalah untuk beribadah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz Dzariat :56 : “wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduuni.” Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu. Mereka lalai dalam kesibukan itu.

Lihatlah kesibukan yang terjadi dalam seluruh pesta permainan olah raga level dunia seperti olimpiade misalnya. Belum lagi kesibukan sebelumnya, dan tentunya dengan berbagai kebanggaan dan kegembiraan masing-masing tim yang disambut kedatangannya di negara masing-masing, merekapun telah ancang-ancang (melakukan berbagai persiapan yang jauh lebih terencana, lebih matang dengan harapan dapat memperbaiki dan memperoleh prestasi yang lebih baik, agar lebih gembira lagi!) untuk memenuhi jadwal hari-hari berikutnya dengan berbagai kesibukan seperti itu. Belum lagi tim-tim permaian olah raga lainnya, yang kini di berbagai negara telah terorganisir. Belum lagi permainan kesenian dan hiburan, baik yang diperlombakan maupun yang dipertontonkan (melalui festival-festival, peragaan busana, pemilihan ratu sejagad, dsb) melalui berbagai media, media cetak, elektronik maupun langsung. Yang kesemuanya itu tidak lain hanyalah memenuhi selera hawa nafsu manusia belaka

Itulah tabiat manusia. Bahkan Al Qur’an merekam peristiwa yang mengambarkan tabiat yang mudah lalai itu, sebagaimana digambarkan Allah pada masa Rasulullah Saw saat beliau sedang berkhutbah Jum’at:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk mendatanginya dan meninggalkan engkau (Muhammad) (masih) berdiri (menyampaikan khutbah Jum’at).”  (QS. Jum’ah 11)

Oleh karena itu, Allah Swt memberikan peringatan dalam surat Al Munafiqun 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Sikap Tabayyun terhadap Informasi

 
Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini -seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah. Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surah yang sangat agung lagi padat (surat jalilah dhakhmah), karena memang komitmen seorang muslim dengan adab dan etika agama dalam kehidupannya menunjukkan kualitas akalnya (adabul abdi unwanu aqlihi).

Peringatan dan pesan Allah dalam ayat ini tentu bukan tanpa sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi. Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan?.

Secara bahasa, kata fasiq dan naba’ yang menjadi kata kunci dalam ayat di atas disebut dalam bentuk nakirah (indifinitive) sehingga menunjukkan seseorang yang dikenal dengan kefasikannya serta menunjukkan segala bentuk berita dan informasi secara umum; berita yang besar atau kecil, yang terkait dengan masalah pribadi atau sosial, apalagi berita yang besar yang melibatkan segolongan kaum atau komunitas tertentu yang berdampak sosial yang buruk.

Sayyid Thanthawi mengemukakan analisa redaksional bahwa kata “in” yang berarti “jika” dalam ayat “jika datang kepadamu orang fasik membawa berita” menunjukkan suatu keraguan sehingga secara prinsip seorang mu’min semestinya bersikap ragu dan berhati-hati terlebih dahulu terhadap segala informasi dari seorang yang fasik untuk kemudian melakukan pengecekan akan kebenaran berita tersebut sehingga tidak menerima berita itu begitu saja atas dasar kebodohan (jahalah) yang akan berujung kepada kerugian dan penyesalan. Maka berdasarkan acuan ini, sebagian ulama hadits melarang dan tidak menerima berita dari seseorang yang majhul (tidak diketahui kepribadiannya) karena kemungkinan fasiknya sangat jelas.

Berdasarkan hukumnya, As-Sa’di membagikan sumber (media) berita kepada tiga klasifikasi:
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya. Allah swt berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 18).

Sehingga sikap yang terbaik dari seorang mukmin seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat yang dipelihara oleh Allah saat tersebarnya isu yang mencemarkan nama baik Aisyah ra adalah mereka tetap berbaik sangka terhadap sesama mukmin dan senantiasa berwaspada terhadap orang yang fasik, apalagi terhadap musuh Allah yang jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam.

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS. An-Nur: 16).

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Semoga kita mampu menangkap pesan Allah yang cukup agung ini agar terhindar dari penyesalan dan kerugian. Allahu a’lam


red: adhila
sumber: dr.attabiq luthfi/dakwatuna

PICAK!

Anak kecil itu, ia masih kecil. Namun hatinya sudah bisa meronta ketika melihat kenyataan yang dianggapnya tak sesuai dengan kodrat yang lazim.

Pagi itu, ia diantar ibunya pergi ke sekolah. Seperti halnya ibu manapun yang menyayangi anaknya, adalah wajar terdapat perasaan tak tega membiarkan anaknya yang masih seusia SD, menapaki jalan setapak menuju sekolah tua di seberang desa.

“Ibu, nanti diantarnya sampai di depan gerbang saja,” pinta anak kecil itu.

Ia memang tidak menampakkan gelagat apapun ketika mengucapkan kata-kata itu, karena ekspresi datar tersebut tak ubahnya seperti yang biasa-biasanya. Tapi siapa sangka, ia telah menyembunyikan sesuatu.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Sang Ibu itu, wanita tua yang ringkih itu, menatap wajah anaknya dan tersenyum teduh, “Nak, SPP belum dibayar dua bulan. Bulan ini juga belum ada uang untuk membayar. Aku mau menemui kepala sekolah untuk meminta keringanan.”

“Tidak usah repot-repot, Bu. Biar aku saja yang menyampaikan ke Pak Kepala sekolah.”

“Nak, lebih sopan kalau orang tua yang menyampaikan.”

Seketika anak kecil itu dipanggil teman-temannnya. Dan dengan segera anak itu menegaskan kata-katanya, “Ibu.. Ibu pulang saja, nanti saya akan menemui Kepala sekolah sendiri. Tidak apa-apa Bu.”

“Kurang sopan Nak. Tidak sesuai adat,” Sang Ibu ramah.

“Ibu!” Suara anak itu tiba-tiba membentak, “kau jangan mempermalukan aku di depan teman-temanku!”

Sang ibu terbelalak, ia terperangah. Tenggorokannya tercekat tak mampu keluarkan kata-kata. Sang anak masih melanjutkan, “Lihatlah dirimu! Perempuan bermata satu!”
“Nak!!” ibu membentak, namun masih tercekat.

“Apa? Ibu masih belum sadar kalau tidak normal? Dasar perempuan picak!”

Kata itu, yang tersebut di akhir itu, seketika merobohkan sendi-sendi kaki sang Ibu. Tubuh kurusnya melorot menyentuh tanah jika tak tertahan oleh kedua lututnya. Wajahnya tertelungkup, tertutup oleh kedua tangan, namun air masih merembes keluar tak tertahan.

***

Kini anak itu sudah dewasa setelah 30 tahun minggat dari rumanya. Berumah megah, bermobil mewah. Cukup istimewa melihat kehidupannya.

Ia sebenarnya tidak melupakan Ibunya. Buktinya, ketika kini ia mau menikah, ia tetap memberi tahu kepada Ibunya. Dan ketika pesta pernikahan itu digelar, sang Ibu dengan baju kumuhnya datang dengan seuntai senyuman.

“Ibu,” kata anak itu, “aku sudah dewasa.”

“Syukurlah anakku kau baik-baik saja, bahkan sekarang hidupmu lebih dari ukuran istimewa.” Sang Ibu masih tetap dengan ramahnya.

Tiba-tiba wanita cantik di samping sang anak itu bertanya, “Maaf, ibu... ibunya Mas Farhan?”

Dan seketika ketika sang Ibu hendak menjawab, sang anak buru-buru menjawab, “Ooh, ibu ini yang merawatku waktu kecil. Dia masih ada hubungan keluarga denganku.”
Wanita cantik itu mengangguk pelan.

***

Bagaimanapun sang anak itu tidak pernah melupakan sang ibu. Maka beberapa bulan setelah pernikahannya, ia berniat berkunjung ke rumah Ibunya di pelosok desa. Ia mungkin merasa berhutang budi, oleh karenanya ia berniat memberikan sumbangan, sebagai imbalan atas jasanya merawat dirinya waktu kecil.

Mungkin sekoper uang ini cukup untuk sisa hidupnya, katanya dalam hati. Dan ketika ia sampai di depan pintu rumahnya, maaf, rumah ibunya, ia tak mendengar suara apapun dari dalam. Ketika ia mengucap salam, malah terdengar jawaban berupa rengekan suara engsel pintu tua yang tertiup angin. Senyap, rumah tua itu kedap suara, seperti tak bernyawa.

Ia menanyakan kepada kakek tua yang buru-buru berangkat pergi ke sawah. Ia bertanya, pindah kemana orang yang punya rumah itu. Dan dijawabnya, “Nak, dia sudah meninggal dua minggu yang lalu.”

Sang Anak tersengat dengan jawaban itu. Lalu ia masuk ke dalam rumah, melihat-lihat sekeliling yang penuh sawang, dan kemudian ia menemukan secarik kertas tergeletak di atas tikar ibunya. Ia membuka kertas itu, dan membaca tulisannya,

Anakku, Farhan.
Assalamu’alaykum wr.wb.

Anakku, aku turut bahagia melihat dirimu juga bahagia. Maafkan ibumu jika dirimu merasa malu atas kekuranganku. Aku bersyukur kepada Allah, karena mampu membuatmu bahagia setelah sedikit pengorbananku menutupi kekuranganmu. Karena pada masa lalu, engkau terlahir dengan bermata satu. Aku tak tega jika membiarkan dirimu tumbuh dengan keadaan seperti itu, maka akhirnya aku putuskan untuk mendonorkan satu mataku, untuk kuberikan kepadamu.

Maafkan aku, anakku. Bahagialah dirimu bersama istrimu.
Wassalamu’alaykum wr.wb.

Sang anak mengatupkan surat singkat itu. Dan tenggorokannya terasa dibelesakkan besi linggis hingga tertembus mengaduk-aduk usus. Ia baru merasa bahwa dirinya durhaka. Dia… ucap hatinya… lebih dari sekedar pengkhianat. []

KESOMBONGAN KOLEKTIF

Sombong itu, kata Rasulullah, menolak kebenaran dan meremehkan manusia. [HR. Muslim].

Ketika seseorang disodorkan peran antagonis dalam sinetron, maka kesan karakter yang akan ditangkap adalah kecongkakan. Sikap menghinakan, merendahkan, membabi buta, dan mungkin selalu diikuti dengan penampilan glamour yang menandakan bahwa dirinya pantas untuk diperhitungkan. Itu dalam sinetron, yang tentunya bagi para penonton sangat mudah untuk menilai, bahwa sikap peran itu: Sombong.

Banyak literatur menyebutkan, bahwa sombong adalah satu macam di antara penyakit hati. Oleh sebab tidak stabilnya kondisi hati. Walaupun ini merupakan masalah hati, tetapi penampakannya sangat mudah untuk diindentifikasi. Contohnya terlalu banyak, bisa Anda cari sendiri, yang dengannya akan dapat membuat Anda mengumpat ke arahnya, “Sombong!”

Seseorang tidak perlu meraih gelar tinggi-tinggi untuk mengerti kata ini, namun agaknya, ada satu hal yang amat teramat disayangkan. Seiring dengan berkembangnya zaman, seakan-akan kata tersebut tengah mengalami reduksi. Atau jangan-jangan, definisi sombong dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan pengertian istilah takabur dalam Islam? Ternyata benar, bahwa di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sombong hanya diartikan sebagai: Menghargai diri secara berlebihan; congkak; dan pongah. Dan setelah diteropong berdasarkan realita penerapannya, maka kita bisa menyimpulkan bahwasanya ‘sombong’ di lingkungan sekitar kita hanya mencakup perilaku “moralitas” belaka. Setingkat lebih sempit ketimbang apa yang dipaparkan oleh Rasulullah saw..

Jelas ada satu hal yang terlupakan, yang secara tidak sadar konsekuensinya jauh lebih mengerikan. Kalau sombong seperti yang telah kita bahas di atas umumnya berobyek kepada sesama manusia, maka kriteria sombong yang kedua yang disampaikan oleh Rasulullah saw., yakni menolak kebenaran, itu berarti pelakunya melakukan kesombongan kepada Allah swt..

Kita tahu kenapa Iblis dipastikan dijebloskan ke neraka, itu akibat sikapnya yang menolak perintah kebenaran untuk bersujud kepada Adam. Dengan congkak ia membangga-banggakan diri merasa lebih terhormat dari pada tanah lempung. Ironisnya, akhir-akhir ini ada yang mencoba bertindak sebagai semacam pembela iblis dengan mengatakan hanya Allah tempat kita bersujud dan bukan kepada manusia, untuk kemudian terlahir klaim bahwa itulah alasan mengapa iblis menolak untuk bersujud kepada manusia. Maka, celetukan yang keluar bisa sampai kepada pernyataan iblis berhak menyandang gelar makhluk paling bertakwa. Andaikan perkara ini dibawa ke meja persidangan, dan Iblis menyetujui alasan pembelaan “pengacara”-nya itu, maka sebenarnya ia pun lupa, bahwa yang ia lakukan hanyalah mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Saya pastikan para “pengacara” Iblis tersebut kurang memahami makna dari “sujud kepada Adam”.

Maka, tetaplah iblis berada dalam vonis.

Hal yang perlu direnungkan disini adalah, semua orang tahu bahwa iblis bukanlah Atheis. Bahkan ia lebih dulu mengenal Allah daripada manusia. Tetapi karena sikap enggan menerima kebenaran, dan justru ia lebih memilih membangkang, maka tetaplah neraka tempat ia bakal dijebloskan.

Pertanyaannya, apakah aturan semacam itu hanya diperuntukkan kepada Iblis? Anda pasti tahu ini pertanyaan retoris. Dan jawabannya memang tidak. Setiap manusia yang membangkang dari aturan, berani menolak kebenaran, maka resikonya kurang lebih sama seperti yang diberlakukan terhadap iblis.

Kini, masalah besar yang melanda dunia ini, adalah satu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh mayoritas umat Muslim bahwa Agama yang dianutnya telah lengkap memberikan aturan di segala aspek kehidupan. Saya katakan belum sepenuhnya “dipahami” karena realitasnya hanya sekedar “dimengerti”. Orang yang mengerti belum tentu memahami, tetapi orang yang memahami sudah tentu mengerti, untuk kemudian melakoni.

Seperti apa yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, Islam merupakan agama yang sempurna [QS.Al-Maidah: 5]. Sempurna, artinya tidak satupun aspek kehidupan yang luput dari aturan Islam. Dari mulai perihal sholat sampai perkara buang hajat, dari yang ritual sampai mu’amalah, dari hukum moral sampai hukum tatanan Negara. Maka sebagai konsekuensi logisnya, Allah memerintahkan manusia untuk berislam secara keseluruhan (kaffah) [QS.Al-Baqarah: 208].

Lha, kalau menolak? Dengan alasan apapun, maka harap diingat, sekalipun manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, tetapi mereka bukanlah “anak emas” yang akan membuat Allah membabi buta membela mereka apapun alasannya. Mereka yang mencoba menolak dan justru memutuskan perkara selain dengan hukum Allah, maka akan dikenai tiga kemungkinan sangsi: Kalau tidak Kafir, ya Dhalim. Dan kalau tidak keduanya, maka ia fasik [QS.Al-Maidah: 44; 45; 47]. Anda yang jika betah-betah saja berislam setengah-setengah dengan mengimani sebagian isi Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lainnya, inipun dikecam oleh Allah swt. [QS.Al-Baqarah: 85]. Terlebih bagi yang kemudian mencari Agama lain, maka di akhirat ia termasuk orang yang merugi [QS.Ali Imran: 85].

Dan ironi yang selanjutnya, betapa sombongnya Negara ini yang telah menolak hampir keseluruhan aturan dari Allah swt., Tuhan yang notabene Maha Mengatur. Mereka tidak hanya menolak, tetapi bahkan ada yang mencibir dengan mengatakan Syariat Islam tidak relevan untuk diberlakukan. Selanjutnya, mereka meracik sendiri syariat baru untuk menggantikan Syariat Islam. Itu artinya ia merasa lebih pinter dan lebih ‘sakti’ dari pada yang menciptakan dirinya sendiri. Bahkan sempat terdengar suara sumbang yang menuduh Syariat Islam, harus bertanggung jawab atas kemunduran umat manusia.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Jauh sebelum orang-orang sombong itu membuat aturan baru, Allah swt. sudah melontarkan satu pertanyaan retoris, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman?” [QS.Al-Maidah: 50].

Dan kemudian Al-Qur’an juga mengingatkan, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.” [QS.An-Nisaa’: 60].

Mungkin ada sebagian remaja seusia SMA yang berusaha menjelaskan, bukankah dasar Negara ini tidak bertentangan dengan Agama?

Wahai adikku, seindah apapun kata-kata yang menjadi dasar Negara, selagi hukum yang berlaku adalah hukum thaghut maka tetap thaghut. Kemasan kaldu yang bermerek sapi selagi isinya babi maka tetaplah babi, tetap haram dikonsumsi. Nah, apakah Kamu, adikku, melihat hukum Negara ini sudah tepat akurat sesuai Syariat?

Dia terdiam. Kemudian datang seorang Dosen, dan berucap dengan nada sarkastis, “ini bukan Negara Agama!”

Pak Dosen yang terhormat, Negara ini memang bukan Negara Agama, namun jangan lupa bahwa Negara ini juga bukan Negara setan yang dengan semaunya bisa melegalkan produk hukum nafsu yang belepotan kepentingan.

Kawan, kuberi tahu sekarang ini banyak orang sakit. Yang menyedihkan bahkan sebagian besar tidak merasa kalau dirinya sakit. Penyakit ini aneh, karena berjalan secara kolektif, tersistem dalam satu wadah besar. Penyakit itu bernama Kesombongan kolektif. Dan pelaku kesombongan terbesar kini adalah Negara, yang menolak sebagaian besar –untuk tidak mengatakan keseluruhan- kebenaran. Saya, Anda, saudara kita, semoga masih dikaruniai kesehatan. Inilah akhirnya. []

Facebook haram? (Memahami konsep Hadharah-Madaniyah lebih mudah)

I. PROLOG
Seseorang itu telah salah faham kepada saya beberapa waktu lalu. Yakni ketika dia menjumpai saya menggunakan produk Sains Teknologi yang saat ini sedang digandrungi hampir seluruh pengguna internet; Facebook, sementara saya dipandangnya sebagai Aktivis Islam yang mungkin dianggapnya Anti Barat secara keseluruhan.

Di samping itu pandangan masyarakat umum pun masih terkadang kabur, bahkan sempat banyak yang terperangah ketika secara tiba-tiba Booming fatwa “Facebook Haram”. Maka kemudian terjadilah banyak perdebatan. Yang sudah terlanjur gila dengan Facebook melayangkan Counter attack akibat hobinya merasa dicekal, sementara yang masih dalam tahap belajar keislaman pun tak sedikit yang berubah menjadi bimbang, kelimpungan, mempertanyakan dan mencari perbandingan argumentasi untuk memantapkan kebenaran.

Jauh sebelum itu, ketika Belanda masih kerasan menjabat sebagai “Juragan” kerja rodi di tanah air, betapa ramai perbincangan para Kyai dan masyarakat umum yang serta merta menyebut Dasi sebagai barang Najis. Menunjuk hidung orang yang memakai dasi dengan sebutan “menyerupai orang kafir”, untuk kemudian disimpulkan sebagai bagian dari orang Kafir. Khusus pendapat ini mungkin masih bolehlah kita sikapi wajar-wajar saja, lumrah-lumrah saja karena kondisi psikologis masyarakat Indonesia pada waktu itu memang sudah “eneg” melihat tingkah polah Belanda (kafir) yang semakin hari semakin buas saja. Disamping itu juga ada Hadits yang menyatakan bahwa, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka”. Namun sayangnya, Hadits ini kemudian ditakwil dan disalah pahami untuk menghukumi Haram selembar dasi.

Kemudian saya juga teringat dengan perdebatan sengit saya di E-Mail dengan salah seorang Dosen Filsafat tujuh semester silam. Dosen yang menghormati aktivitas penodaan nama Allah dengan menginjak-injak lafadz Jalalah ini, mendebat argumen saya mengenai kehalalan produk “madaniyah” dan haramnya produk “hadharah” Barat (kafir). Beliau menuliskan dalam E-Mail yang dikirimkannya kepada saya, “Adalah pemahaman yang konyol, hasil pemikiran berupa ide khas seorang kafir dianggap haram diadopsi seorang muslim, namun ketika terdapat produk teknologi (duniawi) yang tercipta dari orang kafir pula, yang dengannya Anda sebut dengan istilah “madaniyah” dengan enaknya Anda aku halal. Padahal antara pemikiran (ide khas) dan produk duniawi tersebut keluar dari batok kepala yang sama. Sama-sama dari orang kafir. Kalau pemikiran atau ide kafir diharamkan untuk dianut, lalu kenapa bisa dikhususkan halal produk duniawinya yang tercipta dari batok kepala seorang kafir?”

Gleg! Saya menelan ludah. Satu kata muncul: “logis”, pikir saya waktu itu. Namun kemudian saya cepat-cepat tersadarkan, dibalik argumentasinya yang terangkai “logis” ini, ternyata Dosen saya itu sebenarnya menilai perkara secara membabi buta. Secara serampangan, tak mampu menilai secara proporsional. Beliau mengira semua yang putih adalah lemak, dan semua yang hitam adalah arang. Maka dari itu dalam jawaban saya dulu, saya selipkan satu paragraf untuk menutup jawaban saya, “Itulah hasil pemikiran akibat terlalu banyak mengkonsumsi Filsafat (baca: Pil Sahwat), yakni Pil yang menyebabkan seseorang mandul dalam kebenaran islam. Inilah yang membedakan saya dan Anda, kalau saya merujuk pada teladan Rasulullah SAW, maka Anda membebek kepada Pak Dhe Aristoteles, Mbah Sokrates, Tales, Descartes, dan siapa lagi yang semacamnya.”


II. PEMBAHASAN
Sebelumnya saya meminta maaf jika tulisan saya ini terlalu polos dan sederhana. Memang sengaja saya tidak ingin berbicara ruwet dan njlimet dengan tujuan agar tulisan ini bisa dipahami dengan mudah. Maka dengan menggunakan bahasa saya, saya akan menjelaskan sesuai kepasitas keilmuan saya. Untuk selebihnya, pengembangannya, atau penjelasan lebih lengkapnya silakan baca di referensi lain yang beberapa diantaranya akan saya sebutkan di akhir tulisan ini.

Hadharah, secara istilah diartikan sebagai sekumpulan pemahaman, persepsi, atau Mafahim tentang kehidupan.

Madaniyah, adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan.

Belum mudeng? Sabar, akan saya jelaskan satu persatu.

1. HADHARAH.
Tak bisa dipungkiri, setiap tingkah laku atau perbuatan manusia, tentu tidak akan lepas dari pengaruh pemahaman yang ada dalam pikirannya. Tidak akan lepas dari persepsi “aturan” yang dipahaminya.

Contoh sederhana: Anda mencintai seseorang yang bernama A, sedangkan di saat yang sama Anda membenci orang B. Maka persepsi Anda terhadap orang yang Anda cintai (A) akan membentuk perilaku Anda terhadap orang tersebut. Sebaliknya, perilaku Anda tadi akan berlawanan dengan orang yang Anda benci (B) karena Anda mempunyai persepsi kebencian terhadapnya. Ingat, persepsi.

Sekarang mari kita singkap lebih jelas tentang Hadharah. Sederhananya, Hadharah dibagi menjadi dua macam: Hadharah Islam, dan Hadharah Kufur. Dua Hadharah ini bertentangan satu sama lain. Kita bisa merasakan perbedaannya. Definisi kebahagiaan menurut islam dengan kebahagiaan menurut pemahaman Barat (kufur) jelas berbeda. Begitu pun dengan definisi kesuksesan yang hakiki, kekayaan yang hakiki, dan sebagainya. Terlebih juga aturan yang berlaku diantara keduanya. Sekali lagi, persepsi.

Hadharah islam berdiri di atas dasar Iman kepada Allah SWT, dan bahwasanya Dia telah menjadikan alam semesta, manusia, dan kehidupan ini suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya. Dengan kata lain, Hadharah Islam ini berdiri di atas dasar Aqidah Islam yang membawa konsekuensi bagi kita untuk tunduk dan taat terhadap suluruh aturan atau Syariat-Nya.

Nah, dengan persepsi pemahaman Hadharah islam ini, maka segala yang kita lakukan haruslah merujuk pada aturan yang diberikan oleh Allah SWT, itulah Syariat Islam. Mulai dari ibadah Mahdhoh (ritualitas) seperti Sholat, Puasa, Haji, dan sebagainya, hingga Ibadah Ghairu Mahdhoh dalam hal mu’amalah pergaulan laki-laki perempuan, cara berpakaian, sampai dalam hal hukum pemerintahan. Karena jelas di dalam Islam telah diajarkan pemahaman bahwa dalam hal apapun, sekecil apapun, seluruhnya tak luput dari jangkauan Aturan Islam. Dengan demikian, Hadharah Islam ini berlandaskan pada asas yang memperhatikan ruh (yaitu hubungan manusia dengan Pencipta), atau melandaskan semua perbuatan pada motivasi spiritual.

Namun bagaimana dengan Hadharah Kufur? Hadharah ini dibangun berdasarkan pemisahan antara Agama dan kehidupan (sekularisme), disamping ada juga yang sama sekali meniadakan Agama (Atheisme).

Sekularisme, pemikiran “impor” ini yang sekarang marak menjangkiti banyak manusia di muka bumi, tak terkecuali orang-orang muslim sendiri. Oleh karena itu jangan heran ketika dalam Majlis Dzikir banyak orang sampai nangis-nangis, tapi ketika kembali kepada kehidupan umum kemenong-menong urusan Agama menjadi nomor 17 setelah nomor 16-nya puyer! Saat berada di barisan Shaf Sholat berjejer laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, tapi di taman kota, di kampus, dan di tempat-tempat lainnya tanpa tedeng aling-aling haha-hihi Khalwat (berdua-duaan) dan Ikhtilat (campur baur laki-perempuan) secara berjamaah. Di saat Sholat seluruh badan tidak tampak kecuali wilayah tertentu, tapi keluar Masjid berevolusi berpakaian ala kesebelasan sundel bolong alias you can see. Di saat berdiri untuk Khotbah Jumat menyerukan harus taat seluruhnya kepada Syariat, tapi di saat Upacara bendera berseru kita harus patuh kepada UUD 45 karena kita bukan Negara Syariat! Hah? Bagaimana ini?

Lalu kita mengenal ideologi Kapitalisme, yang menjadi Raja dari Permaisuri Sekulerisme. Ideologi ini terkesan kurang waras karena wataknya yang serakah. Astaghfirullah... maaf, kok terlalu kasar jika saya katakan kurang waras, lebih lembutnya mungkin seperti anak kecil yang masih ingusan. Ya maksudnya dia juga serakah karena kalau diberikan mainan, tanpa mau berbagi dengan teman sepermainannya. Saudara penulis, tidakkah itu masih terlalu kasar? Maaf-maaf saja, kali ini saya benar-benar kehabisan stock istilah yang lebih feminin untuk sebuah Ideologi Kapitalisme. Betapa tidak, Ideologi ini yang dipikirkan hanya bagaimana caranya agar mereka kaya raya. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya meraih manfaat duniawi. Persetan dengan aturan, bullshit apa itu Syariat Islam, selagi korupsi itu menjanjikan, selagi riba itu menguntungkan, selagi menipu itu memuaskan, ya sudah, sikat!

Kemudian Pluralisme. Paham menyamakan semua golongan dan Agama. Pada mulanya niatnya memang terkesan “baik”, untuk tujuan kerukunan golongan dan Agama. Tapi di sisi lain paham ini tampak terlalu “memaksa” dengan logika yang gegabah lagi salah kaprah. Akibatnya, serta merta dari mulai Agama Islam, Kristen, Budha, Konghucu, Sinto, dan sebagainya, kesimpulannya semua adalah sama! Sama-sama jalan menuju kebenaran, sama-sama jalan menuju Tuhan, dan sama-sama akan memperoleh keselamatan. Semuanya benar, tidak ada yang salah, katanya. Kita sebagai seorang Muslim yang telah bersyahadat pun diharuskan mengakui Agama yang lain juga benar. Padahal kalau hanya untuk tujuan kerukunan tak perlu dengan logika yang jungkir balik begitu. Katakanlah orang Kristen mengaku benar dengan Agamanya dan menyalahkan Agama yang lainnya, silakan. Biarlah orang Kristen berkeyakinan bahwa mereka akan masuk Surganya Kristen dan kita kaum Muslim akan masuk Nerakanya Kristen, No problem. Tapi sebaliknya biarlah kita kaum Muslim berkeyakinan akan masuk Surganya Islam, sementara orang-orang Kristen akan masuk Nerakanya Islam. Beres!

Liberalisme. Kalau boleh saya umpamakan, liberalisme ini seperti anak ingusan yang dandanannya awut-awutan, suka mangkal di perempatan lampu stop-an, jarang mau disuruh pulang, malah ikut-ikutan anggota Punk jalanan. Bebas, ngawur tur ngelantur. Liberalisme dalam Negara bisa kita lihat contohnya berupa Privatisasi Sumber Daya Alam (SDA), menjual kekayaan alam secara ugal-ugalan. Sedangkan Liberalisme dalam Agama, tidak usah jauh-jauh, IAIN! (Yang tidak terima silakan protes ke saya.). Satu contoh seorang pengusung Liberalisme Agama adalah Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir yang divonis murtad oleh Mahkamah al-sti’naf Cairo akibat pemikirannya yang terlempar jauh dari Islam. Padahal sebelumnya ia mengajukan Promosi untuk menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Cairo, namun promosinya ditolak karena karya-karyanya dinilai kurang bermutu bahkan menyimpang karena isinya meremehkan Al-Quran dengan mengatakannya sebagai produk budaya (muntaj tsaqofi), mengingkari otentisitas Sunnah Rasulullah SAW, dan menghina Ulama Salaf. Maka atas dasar penilaian itu Abu Zayd dinyatakan tidak layak menjadi Profesor. Nah, karena vonis murtad yang disematkan kepadanya membuat Mesir mendadak heboh karena berita ini cepat tersebar luas, akhirnya Abu Zayd terbirit-birit ke Madrid-Spanyol meminta perlindungan sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda. Menariknya, kalau di Mesir ia dikafirkan, di Belanda justru ia mendapat sambutan hangat dan diperlakukan istimewa. Ia langsung direkrut sebagai Dosen di negara tempat kelahiran Kiper nyentrik Van Der Sar, tepatnya di Rijksuniversiteit Leiden.

SIPILIS: Sekularisme, Pluralisme, dan liberalisme, telah selesai kita bahas singkat. Lalu apa lagi? Masih banyak! Sosialisme (Atheis), permisifme, hedonisme, paham Gender dan sebagainya. Cukup hanya itu yang saya sebutkan sebagai contoh, saya pilih yang seringkali terdengar saja. Toh di sini kita tidak usah banyak-banyak contoh, yang penting kan Anda sudah faham definisi dan pembagian Hadharah ini. Intinya, yang halal dan yang wajib kita adopsi dan kita yakini adalah Hadharah yang bermuara pada Islam, sedangkan Hadharah yang berasal dari Barat (kufur), kamu punya kata apa untuk dia? Haram? Najis? Jijik? Ah, itu terserah Anda. Bagi saya cukup haram, sudah.

2. MADANIYAH
Telah kita pahami sebelumnya, bahwa madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan. Nah, langsung saja sekarang menginjak pada pembagiannya, pembagian Madaniyah: Madaniyah Amm (umum), dan Madaniyah Khas (khusus).

Madaniyah Amm, adalah bentuk fisik suatu benda yang tidak ada unsur Hadharah tertentu. Seperti hasil Sains dan Teknologi, produk makanan-minuman, atau apalah yang semisal dengannya. Selagi tidak ada unsur Hadharah tertentu (Kufur) maka boleh kita gunakan dan kita konsumsi. Seperti Komputer, Facebook, Pizza, bahkan Coca-cola. Coca-cola? Ya, kalaupun ada perdebatan tentang halal dan haramnya diantara Aktivis Islam yang ada, mereka semuanya sebenarnya tidak sampai mengharamkan secara dzahir minumannya, tetapi sekedar bermaksud memboikot karena tersebar kabar bahwa Perusahaan Coca-cola (dan produk-produk Yahudi yang lainnya) telah menyumbang tentara Yahudi untuk membantai kaum muslimin. Namun demikian, Coca-cola sejatinya adalah produk Madaniyah yang boleh dikonsumsi siapa saja.

Kenapa halal? Itulah aturan dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan kelonggaran untuk memanfaatkan produk duniawi bukan semata-mata karena Beliau SAW merasa iri, dengki, atau tendensi terhadap orang-orang kafir yang memanfaatkan produk duniawi, bukan. Telah kita kitahui bersama bahwa Rasulullah SAW dalam setiap gerak-geriknya, tutur katanya, semuanya atas petunjuk Allah SWT. Lagipula secara fitrah manusia memang diciptakan untuk memanfaatkan apa-apa yang telah diciptakan di bumi.

Apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah SAW? Belasan abad yang lalu Beliau sudah menyatakan: “Antum a’lamu bi umurid-Dun-yakum (Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian)”


Kemudian Kaidah Syara’ juga membahas tentang hal itu, “Al-ashlu fil asy-yaa’ al-ibaahah, maalam yarid Daliilut-Tah-rim. (Hukum asal suatu benda adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya)”.

Jelaslah sudah. Lalu, bagaimana urusannya dengan fatwa “Facebook Haram”? Harap maklum, tidak jauh seperti kasus dasi di zaman Belanda yang telah saya jelaskan di awal, orang yang berpendapat Facebook haram ini, mungkin kebetulan melihat fenomena Facebook yang banyak digunakan untuk maksiat. Digunakan untuk gendaan (pacaran), atau pertemanan bermasalah yang lainnya. Untuk hal ini saya pun sepakat dan sependapat, bahwa suatu hal -meski halal- jika digunakan untuk tujuan yang haram (maksiat) maka hukumnya menjadi haram pula. Mari kutunjukkan kepadamu satu Kaidah Syara’, “Al-Wasiilatu ilal-haraami, haraamun. (Perantara suatu keharaman hukumnya adalah haram pula).”

Alhasil, kalau ada yang menyatakan bahwa Facebook haram, internet haram, parabola haram, itu benar. Benar jika sesuatu itu digunakan sebagai “perlengkapan” untuk mendukung seseorang melakukan kemaksiatan. Lha kalau tidak digunakan untuk bermaksiat tapi justru untuk keperluan dakwah, maka monggo-monggo saja, tak ada masalah.

Madaniyah Khas, adalah bentuk fisik suatu benda yang di dalamnya terdapat unsur Hadharah tertentu.

Lagi-lagi satu peristiwa menarik yang terjadi di kampus IAIN, pernah suatu ketika kawan saya seorang Mahasiswa Fak.Ushuluddin dengan bangganya memamerkan kalungnya yang bergandul salib. Ketika ditanya kenapa memakai lambang salib, maka dengan enteng dia menjawab, “ini kan Cuma benda biasa, yang penting kan saya masih Islam.”
Saya teringat juga ketika saya masih SMP, waktu itu ada seorang teman lain sekolah yang selesai melakukan Tour ke Borobudur. Pulang-pulang, dia kemudian menunjukkan kepada saya oleh-oleh dari Borobudur berupa Patung Budha.

Nah, dari dua contoh benda diatas, itulah yang disebut dengan Madaniyah Khas. yakni suatu benda yang mempunyai nilai Hadharah tertentu (Kufur). Kalau benda yang pertama terdapat nilai Hadharah Kristen, maka benda yang kedua membawa makna Hadharah Budha. Maka untuk memakai benda tersebut bagi seorang muslim tidak diperbolehkan.

Lalu bagaimana jika seseorang mengadopsi Hadharah Kufur untuk kemudian dipoles dengan Islam? Seperti halnya mengadopsi Ritual Hindu yang oleh orang islam diganti bacaan-bacaannya dengan bacaan yang Islami. Dalam hal ini sebenarnya masuk dalam Bab Bid’ah, namun saya akan memfokuskan pada pembahasan Hadharahnya.

Renungkanlah Hadits berikut, “Man tasyabbaha bi Qaumin fahuwa minhum (Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka)” (Sunan Abi Dawud no.4031).

Ritual Hindu adalah menjadi Hadharah Hindu. Jika Kaum Muslim menirukan Hadharah Hindu tersebut maka secara otomatis hukumnya adalah Haram. Bahkan jika kita merujuk pada Hadits diatas, Rasulullah SAW menyebut orang yang menyerupai perilaku suatu kaum maka termasuk dalam golongan kaum tersebut. Na’udzubillahi min dzalik.


III. EPILOG
Bukalah mata lebar-lebar, maka Anda akan melihat realitas kehidupan pada saat ini terdapat tiga tipe manusia:

1. Manusia yang ekstrem menolak seluruhnya sesuatu yang berasal dari Barat. Tipe pertama ini dapat kita jumpai pada diri orang yang “nyufi” yang hidupnya hanya berkutik pada hal ritual belaka, di saat yang sama ia mengharamkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Alhasil, mereka akan paham “dalil” tetapi kuper dan Gaptek.

2. Manusia yang ekstrem menerima seluruhnya sesuatu yang berasal dari Barat. Tipe kedua ini adalah orang yang keblinger, terlalu asik hingga tidak sadar kalau dirinya nyasar.

3. Manusia yang mampu memilah dan memilih sesuatu dari Barat, mana yang boleh diambil dan mana yang harus ditolak. Nah, tipe ketiga ini orang yang bijak dan proporsional, yang sesuai dengan pemahaman Islam. Alhamdulillah.

Untuk memudahkan dalam memahami lihatlah tabel berikut:

IV. DAFTAR RUJUKAN
1. An-Nabhani, Taqiyuddin. Peraturan Hidup Dalam Islam (an-Nidham al-Islam). 2003. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.
2. Abdullah, Muhammad Husain. Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam. 2002. Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.
3. Abdurrahman, Hafidz. Diskursus Islam Politik & Spiritual. 2007. Al-Azhar Press, Bogor.
4. Arif, Dr.Syamsuddin. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. 2008. Gema Insani Press, Jakarta.
5. Ali, H.Mahrus. Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan, Dan Ziarah Para Wali. 2007. Laa Tasyuk! Press, Surabaya.

AURA AURAT

Aurat, Mana tahan?

Coba tebak 4 kriteria berikut: Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu? Hayoo…jangan ngeres! Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.

Sobat muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).

Inilah faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini. Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall. Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat! Hampir keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari (lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!). Pikir-pikir, mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut, itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan penuh kutil. Walah!

Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding? Kalo laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”? Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!). Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).

Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku. Doi pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi jadi tukang jaga kebun. Wakaka, sory yeiy! Gubrak! Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula. Hahaha!

Maka bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang sahwat? Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan? Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba? Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.

Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing? Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres? Ya iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya, berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu timbulnya sahwat. Nah, gimana kalo sudah begini? Makanya dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe). Nah tuh, bener kan? Jadi, ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk “berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias “ekspresi”. Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!

The real terrorist

Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris! Kalo teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom, maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!

Ini penting. Kamu saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya. Baiklah, catat baik-baik. Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!! Seru banget, eh, parah banget kan?

Sobat muda muslim, sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum. Intinya usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam. Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror. Ketika kamu SMS lawan jenis kamu, “Dalam waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya. Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang, “Lo gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar teroris itu. Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris! Jadi bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya- yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslim. Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals, “…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”. Sorak-sorak: Huuu!!

Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris? Uhuk, uhuk! Sory batuk. Begini, coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini, bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx” (Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!). Gaswat banget kan? Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak. Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?). Jangankan mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar aurat. Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat! Astaghfirullah…

Sobat muslim, sebenarnya tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana, kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong. Maksudnya begini sayang, kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa. Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani. Lha, kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang berbau sahwat. Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar!

Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu? Apa kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak adil alias njomplang, brur! Ibarat kita kalo rumahnya dimaling, kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Waduh!

Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul. Negara wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya. Jaim (jaga imej) dong! Emangnya barang apaan, diobral-obral?

Nah sobat muslim, jadi jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan” iman. Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam sembari teriak sekeras-kerasnya, “Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak? Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.

Bukan Makhluk Statis



Sungguh, kita hadir dan hidup di dunia ini bukan karena kehendak kita sendiri. Kita hadir dan hidup di dunia ini karena kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, bisa saja kita hadir di dunia ini menjadi sebutir batu jalanan, sehelai rumput di hutan, atau seekor burung di atas dahan. Maka betapa hampa makna kehidupan ini jika Allah takdirkan kita manjadi benda-benda tersebut. Sebab sebutir batu di jalanan menderita sepanjang hari disepak-sepak orang yang lalu lalang. Sehelai rumput di hutan hanya menunggu dirinya dimamah binatang. Manakala seekor burung di dahan mautnya di ujung bidikan senapan.

Tapi jika Allah mantaktdirkan sebutir batu, sehelai rumput, dan seekor burung bisa menjadi sangat mulia dan bernilai. Bukankah batu di lantai mihrab masjid tempat Imam bersujud dan menangis sumbernya sama dengan batu di jalanan, dari sungai atau dari gunung? Bukankah batu mulia yang menjadi dinding banguanan Ka’bah, kiblat manusia sejagad, adalah batu gunung biasa yang sama dengan batu manapun di dunia?

Lihatlah sehelai rumput yang dimakan oleh kuda-kuda para pejuang Islam. Alangkah mulianya rumput itu. Sebab dengannya kuda-kuda tersebut menjadi kuat untuk mengantarkan para pejuang berdakwah dan berjihad ke negeri-negeri yang jauh. Padahal rumput yang di makan kuda-kuda pejuang itu sama dengan rumput manapun di dunia.

Lihat pula burung Hud-Hud yang terbang ribuan kilo meter untuk meneliti kehidupan ratu Balqis dan melaporkannya kepada Nabi Sulaiman a.s. Bukankah tadinya ia hanya seekor burung biasa yang bersarang di atas dahan? Namun setelah ia bergerak dan berjuang, ratu Balqis serta seluruh rakyatnya meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah SWT. Allah memuliakan Hud-Hud dengan mencantumkan namanya dalam al-Quran dan dibaca oleh umat Islam hingga akhir zaman.

Baik batu, rumput, atau burung, semuanya tidak punya hak pilih dalam menjalani kehidupana di dunia. Jika takdir Allah menetapkan sebutir batu menjadi batu jalanan, maka begitulah selama-lamanya. Batu itu tidak akan bisa berusaha meningkatkan kualitas diri agar kelak menjadi Hajar Aswad. Sebaliknya Hajar Aswad juga tidak mungkin melakukan keburukan sehingga jatuh derajatnya menjadi batu jalanan.

Meskipun masih berada dalam koridor Qadha’ dan Qadar Allah, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas. Gerak dan kreativitas manusia itulah yang disebut dengan amal atau usaha. Jika baik amalnya, manusia berkesempatan untuk sampai kepada derajat yang mulia, meski tadinya durjana. Sebaliknya jika buruk amalnya, maka manusia yang paling mulia pun akan jatuh derajatnya kepada kehinaan dan kedurjanaan. Inilah perbedaan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain.

Batu, rumput, dan burung bukanlah makhluk yang dinyatakan Allah sebagai mulia. Justru makhluk yang disahkan Allah memiliki kemuliaan adalah kita, manusia. Firmannya:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ : 70)

Sayangnya lagi dan lagi, kita tidak mau menginsafi bahwa kemuliaan manusia itu sangat tergantung kepada sejauh mana ia menjalankan kehendak dan perintah Allah SWT. Manusia bukan batu, bukan rumput, dan bukan burung yang hidupnya statis. Manusia adalah makhluk yang Allah berikan kesempatan untuk berbuat dan memilih.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin : 4-5)

Tanpa mematuhi perintah dan kehendak Allah, manusia bisa lebih hina dari batu, rumput, dan burung. Bahkan manusia yang durjana sebaiknya memilih mati sebagai sebutir batu, sehelai rumput, atau seekor burung. Sebab mati sebagai manusia, ia harus mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya dalam hari perhitungan yang akan menyeretnya kemudian ke dalam neraka. Sementara batu, rumput dan burung terbebas dari itu semua.

Jika manusia benar-benar mematuhi kodrat penciptaan dirinya untuk menyembah Allah dan memenuhi kehendak-Nya selama berada di dunia, jika manusia benar-benar memegang teguh nilai keimanan dan menjaga hati nuraninya dari dosa dan kemaksiatan, maka ia akan berbahagia dalam keridhoan Allah dan bersenang-senang dalam syurga-Nya. Namun jika ia memilih untuk mengabaikan hakikat penciptaannya sebagai manusia, mengingkari kehendak Allah dan menuruti hawa nafsunya, maka ia akan dibakar api neraka selama-lamanya. Selama-lamanya. [Dikutip dan disadur dari Buku “My Dad My Pious Dad”]

Friday, November 29, 2013

Berhala Wanita: Harta dan Tahta

Harta memang telah menggelapkan mata. Norma-norma kebaikan pun dilanggar. Terlebih syariah Islam, tak lagi dihiraukan.
Tahta, harta dan wanita sepertinya tidak bisa dilepaskan. Misalnya lakon Djoko Susilo, Eyang Subur dan Ahmad Fathanah. Ketiganya memiliki kemiripan: tajir, lalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik.
Djoko Susilo misalnya. Selain hartanya Rp 100 milyar lebih, terdakwa dugaan korupsi proyek pengadaan alat simulator SIM ini memiliki banyak istri cantik. Mereka adalah Suratmi, Mahdiana dan Dipta Anindita. Wanita-wanita itu pun kini terseret di pusaran kasus dugaan tindak pidana pencucian uang. (liputan6.com,23/04).
Lalu yang kontroversi, Eyang Subur dengan delapan istri, di antaranya dinikahi pada usia 15 tahun. Meski melanggar syariat Islam, yakni maksimal empat, istri ke 5 sampai 8 Eyang subur tak mau diceraikan. Maklum, mereka mengaku makmur, mengingat uang belanja bulanannya konon mencapai Rp 50 juta per bulan.
Terakhir tak kalah hebohnya kasus Ahmad Fathanah. Sederet nama perempuan dikaitkan dengan tersangka suap impor daging sapi ini. Istrinya Septi Sanustika, sebelumnya dikenal sebagai penyanyi dangdut Septi Angel. Lagu hitmya berjudul ¨Tukang Porot.¨ Sebagai istri, Septi mendapat rumah dua lantai seluas 157 m2 yang kemudian disita KPK.
Saat ditangkap pun, Fathanah kedapatan bersama mahasiswi cantik Maharani yang menerima Rp 10 juta darinya. Lalu teman dekatnya Vitalisa Shesya, model porno, mendapat Honda Jazz dan jam tangan Chopard bernilai ratusan juta. Fathanah juga menjatah Honda Freed, gelang Hermes dan jam tangan Rolex pada biduan dangdut Tri Kurnia. Bahkan artis Ayu Azhari juga ikut kecipratan uang panas Rp 47 juta.
Ketiga kasus di atas menguatkan anggapan bahwa perempuan memang mudah ¨dibeli¨. Sosok pejabat korup, politikus, pengusaha atau bahkan dukun sekalipun, tak menghalangi perempuan untuk mendekat asal materi jaminannya.
Perempuan Matre
Selama ini memang ada anggapan perempuan sosok materialistis. Istilah gaulnya cewek matre. Mana ada perempuan yang tak tergiur dengan harta. Cari suamipun yang kaya raya. Tak peduli duda, sudah bersuami atau tua renta, yang penting nafkah terjamin.
Apalagi, biaya hidup perempuan saat ini sangat tinggi. Fashion harus up to date dan bermerek. Tas dan sepatu wajib branded original. Perawatan tubuh mulai ujung rambut sampai ujung kaki butuh ratusan ribu rupiah rutin. Kosmetik pemutih hingga produk pelangsing jadi anggaran belanja wajib.
Kaum lelaki pun seperti sudah mahfum dengan paradigma ini. Mereka paham betul dengan ungkapan: ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang. Ya, kaum adam tahu benar memanfaatkan kelemahan perempuan. Umpan berupa materi hampir pasti akan selalu mulus ¨memelet¨ kaum hawa.
Bagi laki-laki, buruk rupa atau usia renta bukan kendala. Asal harta berlimpah, wanita–yang paling cantik dan seksi sekalipun—mudah digaet. Itu pula yang mendorong laki-laki bekerja keras–kalau perlu culas—demi menumpuk harta. Tak peduli jalan haram, yang penting hasrat tersalurkan. Sungguh bukan perilaku terpuji, apalagi islami.
Tanpa bermaksud merendahkan para perempuan yang terseret dalam pusaran kasus di atas, terbukti harta memang telah menggelapkan mata. Norma-norma kebaikan pun dilanggar. Terlebih syariah Islam, tak lagi dihiraukan.
Itu semua terjadi karena para perempuan kebanyakan sudah dicuci otaknya oleh pemahaman sekuler-kapitalis yang memberhalakan harta. Bagi mereka, kebahagiaan adalah diperolehnya sebanyak mungkin materi. Suami kaya, rumah bagus, mobil mewah hingga perhiasan mentereng adalah tujuannya.
Bahkan, jika suami tak mampu memberikannya, dia sendirilah yang akan maju untuk memperebutkan harta dan tahta. Bertameng ¨keadilan dan kesetaraan gender¨, saat ini semakin banyak perempuan disibukkan mencari pundi-pundi materi dengan bekerja atau menjadi pejabat. Bahkan, rela sekadar mengeksploitasi tubuhnya untuk kepuasan kaum Adam dengan imbalan menggiurkan.
Pembela Kebenaran
Dalam filosofi masyarakat Jawa, posisi istri terhadap suami diistilahkan: ¨surgo nunut, neraka katut” (surga ikut, neraka terbawa). Artinya, masa depan istri itu tergantung suami. Bila suami berperilaku baik hingga masuk surga, istri pun akan serta. Sebaliknya, bila suami masuk neraka, istri akan terbawa juga.
Memang, istri atau suami akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Namun, idealnya antara suami dan istri saling membentengi diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa sehingga sama-sama bisa menuju surga. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (TQS Tahrim 66:6)
Semestinya, para istri menjadi pengerem para suami agar berada pada rel kejujuran dalam melaksanakan tugas pernafkahannya. Jangan serta merta bangga ketika suami berhasil meningkatkan uang belanja, tapi layak untuk curiga. Apalagi jika suami ¨hanya¨ berstatus pegawai dengan gaji rutin yang bisa dihitung.
Banyak kasus, pegawai atau pejabat korupsi karena dirongrong istri yang tak pernah puas dengan jatah uang bulanan. Apalagi para istri yang selalu memandang ¨rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumahnya.¨
Demikian pula para perempuan lajang, jangan mudah terpana dengan kemewahan yang disodorkan kaum Adam. Jangan menjual harga diri dengan begitu mudah, sekadar diiming-imingi hadiah yang mencurigan, sekalipun tanpa pamrih. Hari gini, tidak ada makan siang gratis. Tak ada laki-laki yang begitu royal menggelontorkan harta bendanya jika tanpa maksud tersembunyi. Toh cepat atau lambat, akhirnya terbongkar juga kebusukannya.
Muslimah Zuhud
Tak ada larangan bagi wanita untuk menikmati dunia. Harta adalah salah satu kesenangannya. Mengoleksi baju, tas, sepatu atau rumah mewah tidak diharamkan, selama diperoleh dengan jalan yang diridhoi Allah SWT. Namun ingatlah, harta bukanlah segalanya. Harta tak akan menyelamatkan diri di akhirat jika tidak dimanfaatkan untuk kebajikan.
Dalam hal ini, mari kita meneladani para shahabiyah atau generasi muslimah islam terdahulu. Tak sedikit dari mereka yang berlimpah harta, namun tetap menempatkan ketakwaan di atas segalanya. Bahkan, lebih memilih zuhud dibanding bergelimang harta.
Salah satunya adalah kisah istri Said bin Amir, Gubernur Provinsi Himash di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Suatu ketika, Khalifah Umar meminta delegasi dari Provinsi Himash untuk menuliskan daftar fakir miskin yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena terdapat nama Said bin Amir. "Siapa Said bin Amir ini?" tanya Umar. "Gubernur kami," jawab mereka. "Apakah gubernur kalian fakir?" selidik Umar. Mereka membenarkan, "Demi Allah, kami jadi saksi." Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam sebuah kantong dan meminta mereka menyerahkannya kepada sang gubernur.

Menerima sekantong uang berisi seribu dinar, Said langsung membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, seolah satu musibah besar menimpanya. Istri gubernur bertanya: "Apa yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?" "Lebih besar dari itu," jawab Said. "Telah datang dunia kepadaku untuk merusak akhiratku."
"Bebaskan dirimu dari malapetaka itu," saran istrinya, tanpa mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu dinar. Said bertanya: "Apakah kamu mau membantuku?" Istrinya mengangguk. Ia meminta istrinya untuk segera membagikan seribu dinar itu untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk keluarganya. Sungguh perilaku istri yang layak dipuji. Wallahuálam.[](kholda)